BANDUNG,- Memang sulit menjadi pemimpin sukses. Namun, bagi Yusuf Firmansyah SH yang kini menjadi Lurah Kebon Gedang, di Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. Ia asli urang Garut dan masih muda. Baru 37 tahun tapi ide-idenya kreatif.
Walau baru menjelang 4 bulan memimpin Kelurahan Kebon Gedang telah mewujudkan inovasi demi kesejahteraan warganya akibat pandemi Covid-19 terpapar ekonomi hingga banyak yang jadi korban pemutusan hubungan kerja alias PHK.
“Saatnya inovasi ini diwujudkan, kata Lurah Kebon Gedang yang energik ini, dalam masa pandemi Covid-19 ini. Warga jangan ada terpapar namun patut ditolong”.
Yusuf Firmansyah menguraikan komunitas Tohaga Lodaya di kelurahannya yang menyangkut 3 aspek itu, iman, imun dan aman.
Dalam segi keimanan, pihaknya sudah melaunching 12 komunitas DKM dengan harapan para pengurus masjid, alim ulama bisa menyosialisasikan kepada jamaahnya selain harus mendekatkan diri kepada Allah, harus bersabar, bertawakal terkait pandemi Covid-19 dengan selalu menaati protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan tidak berkerumun.
Lurah Kebon Gedang pun mengharapkan mengurangi aktivitas masjid yang memunculkan kerumunan, menyediakan pula di masjid hand sanitizer, tempat cuci tangan.
Dari segi imunitas pun Lurah Yusuf pun menguraikan segi imun ini kepada kaum ibu yang bergerak dalam senam sehat, komunitas sepeda santai, komunitas bulutangkis.
Tujuannya, dengan berolahraga dapat meningkatkan imunitas (kekebalan) hingga wabah Covid-19 tidak bisa langsung merusak tubuh di saat imunitas sudah kuat.
Dalam segi aman, urai Lurah Kebon Gedang, pihaknya melaunching ambulans dan Karang Taruna yang memikul tugas menyemprotkan disinfektan secara rutin ke ranah umum seperti masjid, madrasah, lingkungan pendidikan usia dini (Paud), membagikan masker, wawar masuk ke gang-gang, menyosialisasikan protokol kesehatan. Untuk hal ini pun Kelurahan berkolaborasi dengan komunitas ormas Sundawani.
Beras Perelek
Menurut Lurah Kebon Gedang, hal paling penting dalam inovasinya ini, Beras Perelek. “Ini yang membuat saya bangga. Sebab dengan beras perelek ini warga guyub melaksanakannya yang penyerahannya setiap hari Jum’at,” ucap Lurah Yusuf.
Yusuf menegaskan, warga menyerahkanya seikhlasnya. Tidak ditentukan. Namun kenyataannya selain berupa beras, juga ada yang berupa mie instan dan ada pula berupa uang. Kenapa pemungutannya di hari Jum’at, karena hari itu memiliki nilai berkah.
Ceritera lain yang disampaikan Lurah Kebon Gedang, warga yang tidak mampu diberi cuma-cuma. “Ada warga yang ingin beli beras sekilo tapi uangnya cuma Rp. 3000, ya kita kasih saja. Akhirnya, menjadikan Kebon Gedang ngahiji, guyub, ngaperelek,” ujarnya pula.
Ia menjelaskan pula, beras perelek ini saat ini tidak hanya untuk masa pandemi saja, dikolaborasikan dengan stunting. “Alhamdulillah, saya mendapat juara I tingkat Kota Bandung terkait penanganan Tanginas. Sebab, menu olahan makanan selalu dikoordinasikan tim gizi Puskesmas. Stanting juga terselesaikan, Covid-19 bisa diminimalisir. Semua itu dikelola oleh kader terbaik, LPM, PKK, Karang Taruna dan RW. Laporannya tiap minggu harus ada ke Kelurahan,” ucap Lurah Kebongedang, Yusuf Firmansyah. (Elly Susanto/indoartnews.com)











Komentar