SUBANG-Belasan hektar kolam ikan milik warga di Desa Gembor Kecamatan Pagaden terendam banjir, Minggu sore (3/1/2021) sekitar pukul 16.00 Wib dengan ketinggian hingga 1 meteran dan mengakibatkan ikan-ikan hanyut terbawa arus.
Para pemilik kolam ikan menduga, Banjir diakibatkan aktifitas pembangunan pabrik di kawasan PT Taifa.
Seorang pemilik kolam ikan, Asep, warga Dusun Gembor 2, mengatakan kolam ikannya seluas 150 bata akan dipanen sebulan lagi, kini menyisakan sedikit ikan.
“Ikan emas saya hanyut kebawa arus banjir, tadi pagi saya lihat ke kolam paling paling cuma tersisa 50 kiloan. Saya bener bener rugi besar,” keluh Asep, Senin (4/1/2021).
Akibat Banjir tersebut, dirinya mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Dia mengaku sudah mengeluarkan modal sekitar Rp10 jutaan meliputi biaya benih Rp3,5 juta, pakan 22 kantong dimana per kantong ukuran 40 kg dengan harga Rp400 ribuan per kantong, lalu perkiraan hasil panen rata rata 6 kwintal ikan dengan harga kisaran Rp30 ribu per kg.
“Perkiraan total kerugian sampe Rp30 jutaan,” ucapnya.
Asep pun meminta pihak perusahaan PT Taifa bertanggungjawab mengganti kerugian yang dialami para pemilik kolam yang menjadi korban banjir. Sebab pihaknya menduga Banjir besar ini diakibatkan diantaranya aktifitas pembangunan pabrik di kawasan Taifa.
“Banjir ini jelas akibat pembangunan pabrik Taifa. Memang sebelumnya daerah sini juga ada banjir, tapi enggak separah sekarang setelah ada pembangunan pabrik. Makanya saya minta tolong pihak perusahaan segera perbaiki saluran dan mengganti kerugian yang kami alami,” tegas Asep.
Pemilik kolam lainnya, Neneng, warga Desa Gembor, juga meminta pihak perusahaan bertanggungjawab kepada para korban terdampak banjir.
“Saya punya 4 kolam ikan dan rencananya minggu depan mau panen. Tapi gara gara kebanjiran, semuanya habis. Saya udah ngeluarin modal Rp40 jutaan, semoga ada penggantian dari perusahaan,” imbuh Neneng.
Ketua RT 17 Desa Gembor, Encum, menyebut, kolam ikan terdampak Banjir tersebar di belasan RT mulai dari RT 1 hingga RT 20-an. Menurutnya, berdasar data sementara, dari 10 pemilik kolam ikan yang terparah diterjang banjir, kerugiannya bisa mencapai ratusan juta.
“Dari dulu kita sudah sempat usulkan agar perusahaan perbaiki saluran air. Tapi sampai sekarang enggak direalisasi, malah saluran yang ada tertutup oleh pembangunan,” timpalnya.
Sementara itu, selain merendam belasan hektar kolam ikan, Banjir juga menggenangi pesawahan dan puluhan rumah.
“Ada 20 rumah warga yang terendam Banjir setinggi 50 cm, banyak perabotan rusak tapi enggak ada korban jiwa,” ucap Hendra, Kadus Dusun Gembor Desa Gembor.
Tokoh warga Desa Gembor, Bedi, menyebut, curah hujan yang besar dan adanya penyempitan serta pendangkalan saluran, menyebabkan air meluap.
“Terus disini kebetulan ada pembangunan pabrik dan informasinya memang ada sipon atau gorong-gorong di area pekerjaan Taifa yang jebol sehingga air meluap tidak tertampung,” ucapnya.
Menurut dia, sebelumnya pihak perusahaan sempat mau menormalisasi saluran Cibarasole meliputi penertiban batas batas tanggul dan pendalaman saluran, namun pihak perusahaan kebingungan karena warga meminta ganti rugi, sementara yang mengetahui lahan saluran adalah tanggungjawab PJT.
Pihaknya pun mendukung keinginan warga korban Banjir untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan.
“Memang sebaiknya perusahaan dipanggil agar ada penyelesaian,” ucap Bedi.
Saat ini, pihak Desa Gembor, Muspika Pagaden bersama Dinas Kelautan Perikanan Subang dibantu TNI Polri serta instansi terkait lainnya tengah melakukan pendataan korban dan jumlah kerugian.
Informasi yang dihimpun, jumlah kerugian mencapai Rp1,5 miliar dengan warga terdampak sebanyak 120 orang, luas kolam ikan mencapai 15 hektar dan luas sawah terendam 5 hektar.
Sementara itu, terkait Banjir dan tuntutan warga pemilik kolam yang menjadi korban, hingga kini belum ada tanggapan dari pihak perusahaan.[usep]











Komentar