SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Orang-orang dengan pakaian yang agak sedikit lusuh karena debu jalanan tampak berjejer di sekitar GOR Padjajaran, Minggu, 2 Mei 2021. Tidak sedikit pengendara yang menepi ke arah mereka untuk memberikan makanan berbuka puasa.
Orang-orang itu membawa barang bawaan yang berbeda-beda. Ada yang membawa gerobak, ada yang membawa becak, dan ada yang membawa karung-karung berbagai jenis. Di antara mereka yang paling banyak adalah pembawa karung sehingga dalam sekejap mata orang lain pasti mengenali mereka sebagai pemulung.
Namun, ada yang janggal dari keberadaan mereka. Mereka tidak seperti pemulung lainnnya yang sibuk mencari-cari benda di sekitar yang sekiranya bisa ditimbang untuk dijual. Bahkan, dari hasil pantauan Ayobandung.com, sudah tiga hari mereka berada di lokasi yang sama.
Mereka hanya duduk sambil memperhatikan jalan yang ramai oleh kendaraan. Setiap kali ada sepeda motor yang menepi sambil membawa kantung plastik berisi sejumlah nasi boks, mereka seolah sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan, yaitu berdiri untuk menyambut pemberian dari para pengemudi sepeda motor tersebut.
Pengendara mobil yang menepi sembari membuka kaca pintu pun menjadi semacam sinyal rezeki bagi mereka. Dalam gerombolan-gerombolan yang terpisah dengan jarak-jarak tertentu, mereka terus menerima gelombang pemberian yang baru akan berakhir sekitar 20-30 menit setelah adzan maghrib berkumandang.
Salah seorang pemulung yang tampak seperti ibu-ibu berusia 40 tahun ke atas sempat bertanya ke pria berusia sekitar 30 tahunan yang baru saja datang. Ibu-ibu itu pun bertanya, “Tadi kamu dapat amplop, ya? Isinya berapa?,”
Pria itu pun tampak mengelak dari ibu-ibu tersebut sambil berkata, “Nggak ah, tahu dari mana.” Namun, ibu-ibu itu tampak memaksa dan mencoba menggeledah tubuh pria itu unruk mencari-cari sesuatu yang mungkin disembunyikan oleh pria yang memang terlihat sudah akrab dengannya.
Gelombang pemberian yang tak kunjung henti, membuat para pemulung tampak memperoleh kotak-kotak makanan yang tidak sedikit. Bahkan, karung yang mereka bawa isinya bukan lagi benda-benda acak yang biasa dipungut oleh para pemulung, melainkan kotak-kotak makanan yang bertumpuk.
Selain itu, mereka juga menyimpan takjil dalam jumlah yang cukup banyak. Jika diperhatikan, di dalam karung salah satu pemulung ada sekitar 7-10 kotak makanan.
Sempat terdengar celetukan dari seorang perempuan separuh baya yang bertanya kepada teman sesama pemulung yang baru berhenti duduk di trotoar sisi jalan ketika mereka akan makan, “Sudah dapat barang belum?”
Ketika sudah tiba waktunya makan, gerombolan-gerombolan yang awalnya terpisah-pisah pun berkerumun untuk membuka isi karung mereka dan menyantap makanan yang sudah mereka terima.
Ayobandung.com pun sempat mewawancarai salah satu dari mereka yang bernama Oco Sumiyati persis di seberang gerbang GOR Padjajaran. Ternyata, beberapa dari mereka yang bergerombol secara terpisah-pisah itu saling mengenal dan bertetangga.
“Sudah lama, Ibu nyewa kontrakan di sana (sambil menunjuk ke arah barat daya). Di belakang Koramil (kemungkinan yang dimaksud adalah Koramil Kecamatan Andir). Ini tetangga semuanya (sambil menunjuk ke arah pemulung-pemulung yang lain),” ujar Oco, Minggu, 2 Mei 2021.
Oco pun memperkenalkan dua orang yang pada saat itu posisinya tidak jauh dari dirinya. Yang satu dikenal dengan panggilan Mak Nar, dan yang satu lagi dikenalkan dengan nama Rodiyah. Mak Nar dan Rodiyah adalah ibu dan anak yang keduanya memiliki jatah masing-masing dari para pengendara yang lewat untuk memberikan makanan.
Oco mengaku dirinya berasal dari Sumedang. Dia pun mengatakan dirinya saat ini sangat membutuhkan bantuan karena selain dirinya memang tidak memiliki penghasilan tetap, dia pun tidak bisa pulang karena adanya pengetatan di jalur-jalur mudik.
“Namanya juga orang nggak punya. Mau bagaimana lagi. Ibu ngontrak, sebulannya 500 ribu. Kalau sekarang kan nggak boleh pulang (mudik),” ujar Oco saat mengungkapkan alasannya menunggui kebaikan para pengendara di trotoar Jalan Pajajaran.
Setelah diwawancarai, Oco dan tetangga-tetangganya meninggalkan lokasi. Entah kenapa, saat Ayobandung.com meninggalkan lokasi dan sengaja memutar kembali ke lokasi di mana Oco dan tetangga-tetangganya berdiam di seberang GOR, terpantau bungkus-bungkus makanan yang ditinggalkan begitu saja. Padahal, jika mengingat profesi mereka sebagai pemulung, bungkus-bungkus makanan itu kemungkinan bisa dijual lagi ke pengepul.
Dari pantauan Ayobandung.com, terpantau kira-kira ada 10-12 titik gerombolan pemulung yang berdiam diri di sisi jalan sekitar GOR Pajajaran, termasuk di dekat Stasiun Bandung di Jalan Kebon Kawung. Dari hasil pantauan, pemulung-pemulung pun bermunculan di sekitar Cilaki dan Jalan Aceh. Namun, jumlah yang paling banyak berada di sekitar GOR Pajajaran. Cukup banyak juga pengendara yang menepi di sekitar lokasi tersebut.
Ada salah satu pemulung di dekat Kimia Farma yang tampak tidak nyaman saat hendak diwawancarai dan diambil gambarnya. Dia pun menyiram air kepada Ayobandung.com dengan sisa air teh yang sudah diminumnya sebelum adzan Maghrib berkumandang.











Komentar