oleh

Rumah Rusak, Warga Tipar KBB Terus Protes Peledakan Terowongan KCIC

PADALARANG, AYOBANDUNG.COM — Warga Kompleks Tipar Silih Asih RW 10, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus melancarkan protes terhadap aktivitas peledakan atau blasting terowongan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di tunnel 11.
Tiga hari berturut-turut warga mencoba menemui subkontraktor PT KCIC untuk proyek tersebut yang dilaksanakan oleh PT CREC. Namun tak satu pun pimpinan dari PT CREC menemui warga.
Terakhir, warga mencoba mendatangi lagi area tunnel 11 pada Jumat 4 Juni 2021 pagi. Tapi hasilnya tetap sama seperti dua hari sebelumnya.
“Nihil lagi, belum ketemu. Alasannya gak jelas. Intinya menghindar, ga ada niat baik,” ujar Ketua RT 04/13 Kompleks Tipar Silih Asih, Heru Agam.
Dikatakannya, warga hanya ingin menyampaikan surat langsung kepada pimpinan PT CREC agar aktivitas blasting atau peledakan dihentikan sebab warga merasa terancam. Sekitar sekitar dua tahun warga dihantui ketakutan akibat aktivitas peledakan itu.
Pasalnya, sejak awal peledakan tahun 2019 hingga saat ini dampaknya sangat dirasakan warga Kompleks Tipar Silih Asih. Rumah-rumah warga mengalami retakan pada dinding dan lantai.
“Tadi malam jam 02 (dini hari) ada ledakan. Barusan jam 08 (pagi) ada 4 kali ledakan,” terang Heru.
Protes warga bakal terus dilakukan sampai PT KCIC menggubris keinginan warga untuk menghentikan aktivitas peledakan tersebut. Warga juga berharap kepala daerah mulai dari Bupati hingga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bisa melihat kondisi warga.
“Kemarin kita rencana bertemu Gubernur. Awalnya kita mau 10 orang yang hadir ke Ridwan Kamil, tapi dibatasi cuma 2 orang. Ini lagi di perjuangkan ingin semua hadir biar permasalahan tuntas dan jelas,” pungkasnya.
Terpisah, Direktur Human Resources LA & Asset PT KCIC, Chandra Dwi Putra mengklaim peledakan tunnel 11 telah dilakukan sesuai standar. Pihaknya, telah menggandeng LAPI ITB sebagai konsultan.
“Gini kita kan kerja gak boleh sembarang. Kita punya konsultan dari LAPI ITB dia yang menghitung berapa kilo batas ledakannya. Kemudian setiap kali peledakan selesai, LAPI selalu mengecek ke lokasi untuk melihat efeknya. Jadi kalau dibilang kita kerja ngawur, buktinya kita melibatkan LAPI ITB,” paparnya.
Terkait permintaan warga untuk bertemu, Chandra mengklaim pihaknya telah bertemu pada awal-awal pembangun dimulai.
“Kontraktor dari awal-awal kan sudah pernah bertemu, bicara dan ngasih bantuan ke warga. Kalau memuaskan semua orang kan tidak mungkin,” pungkasnya.

News Feed