KABUPATEN TASIKMALAYA, — MEMANG mengharukan. Ya…itulah kalimat yang tepat bagi seorang Buruh Pemetik Daun Teh yang mendapat upah tak sebanding dengan perjuangan yang dilakukannya.
Sebut saja Ny. Imas (46) warga Kampung Nagrak, Desa Wandasari, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat salaseorang Buruh Pemetik Teh.
Disebutkannya, ia harus berjalan 6 kilometer dan memikul beban Pucuk Teh hasil petikannya hingga 1 kwintal ke tempat yang sudah ditentukan.
Sementara upah yang didapat untuk 1 Kg Pucuk Teh sebesar Rp. 500,-.
“Muhun Pa…mung limaratus rupiah per kilogramna. (Iya Pa…cuma RP.500,-/Kg),” jelas Imas, dalam logat Sunda kepada Penulis di tempat Pengumpulan Teh, Senin (4/7/2021).
Dikatakannya, upah itu didapat setelah melalui perjuangan berat. Dan tidak mudah mendapatkan Pucuk Teh yang akan dipetik. Karena harus keliling perkebunan yang luasnya puluhan hektar.
“Abdi mah angkat ti bumi tabuh genap Enjing-enjing, ngurilingan kebon dugi ka Lohor. (Saya berangkat dari rumah jam 6 pagi, keliling kebun sampai waktunya Shalat Dzuhur,” imbuhnya lagi.
Belum lagi, tambahnya, Pohon Teh yang akan dipetik berada di Tebing dan itu harus di laluinya.
“Kumaha deui atuh. Pami teu dipetik moal kekengingan. (Harus bagaimana lagi. Kalau tidak dipetik, tidak akan mendapatkan apa-apa,” lirihnya Imas.
Disisi lain, menjelang musim penghujan pertumbuhan Pohon Teh. Untuk dipetik pucuknya, merupakan musim paceklik bagi Buruh Petik Teh.
Karena saat datang musim hujan Pucuk Teh sulit didapat. Sebaliknya di musim kemarau, keberadaanya sangat subur.
“Dina danget ieu mah Pucuk Teh disebat kirang. Margi usum hujan. (Dalam waktu seperti sekarang ini, bisa dikatakan kurang. Sebab lagi musim hujan),” pungkasnya. (Ombik/BEREDUKASI.Com).

