oleh

Masuki Pancaroba, Kabupaten Kuningan Masih Kekeringan

KUNINGAN – Status siaga kekeringan masih diberlakukan di Kabupaten Kuningan, meski hujan sudah turun di beberapa kawasan sejak awal Oktober.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu menyebut, status siaga kekeringan masih berlaku hingga 30 Oktober 2020.

“Siaga kekeringan masih berlaku sampai 30 Oktober 2020,” ungkapnya, Selasa (13/10/2020).

Menurutnya, kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di sejumlah kawasan di Kabupaten Kuningan masih terjadi, sekalipun hujan kerapkali turun.

Baca Juga  bank bjb Harus Jadi Top of Mind Warga Jabar Soal Perbankan dan Finansial

Dalam hal ini, sedikitnya 3 desa di 2 kecamatan mengalami krisis air bersih, masing-masing Desa Cihanjaro dan Desa Sukasari di Kecamatan Karangkancana, serta Desa Cileuya di Kecamatan Cimahi.

Total tercatat 2.393 jiwa atau 762 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekurangan air bersih. Untuk ini, suplai air bersih pun masih terus dilakukan pihaknya ke kawasan-kawasan yang membutuhkan.

Sedikitnya 65.000 liter air sejauh ini telah didistribusikan kepada warga di 3 desa tersebut, masing-masing 30.000 liter di 2 desa di Kecamatan Karangkancana dan 35.000 liter di Kecamatan Cimahi.

Baca Juga  23 Pasien Kasus Probabel Covid-19 Kota Bandung Meninggal Dunia

Sementara, menjelang musim hujan, pihaknya meminta masyarakat mewaspadai dampak yang mungkin terjadi.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati Kabupaten Majalengka, Ahmad Faa Izyn menyatakan, mayoritas wilayah di Kabupaten Kuningan diprediksi akan memasuki musim hujan pada November dasarian I (tanggal 1-10).

“Hanya Kecamatan Cigandamekar dan Japara yang musim hujannya diprediksi pada November dasarian III (tanggal 21 sampai akhir bulan),” jelasnya.

Baca Juga  Aplikasi E-Knows Untuk Tingkatkan Proses Pembelajaran Daring Di UIN Bandung.........!

Namun begitu, wilayah Kabupaten Kuningan sendiri kini sudah memasuki masa pancaroba (peralihan) dari musim kemarau ke musim hujan.

Untuk ini, masyarakat diimbau mewaspadai cuaca ekstrim, seperti hujan lebat yang disertai angin kencang, angin puting beliung, serta petir.

Masyarakat pula harus hati-hati atas dampak yang bisa ditimbulkan, antara lain tanah longsor, banjir, pohon/baliho tumbang, dan lainnya.(ayobandung.com)

Komentar

News Feed