BANDUNG – Lantunan ayat Al-Quran sayup terdengar dari lantai dua masjid tertua di Kota Bandung. Masjid Mungsolkanas namanya, tempat beberapa anak tengah ‘ngabuburit’ dengan menghafal firman-Nya.
Letaknya berada di Jalan Cihampelas RT 02 RW 05 Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Saat memasuki masjid, kesejukan terasa mendinginkan seluruh badan, belum lagi suasana sekitar masjid yang tidak bising dari hilir-mudik kendaraan di jalan raya.
Lampunya temaram, tidak begitu terang benderang. Namun, terselip secercah sejarah di masa lalu yang melekat pada masjid berusia 152 tahun ini.
Ayobandung menjumpai Ketua DKM Masjid Mungsolkanas, Diki Senjaya, ia merupakan generasi ke-6 yang mengurus masjid, dimulai dari K.H Uci, Ara Sunara, Udaya, Agus Sholihat, Diki Muttaqin, lalu hingga sekarang oleh Diki Senjaya.
Ia menerangkan masjid ini dibangun di atas tanah wakaf dari seorang janda bernama Lantenas. Dulunya hanya berupa tajug atau surau yang berdiri di tengah-tengah persawahan, berbeda dari yang sekarang, di mana masjid sudah disesaki pemukiman padat bahkan tersembunyi di gang kecil.
Mungsolkanas adalah akronim dari Bahasa Sunda yakni mangga urang sholawat ka kanjeng Nabi Muhammad SAW atau mari kita bersholawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Menurut Diki tidak ada perubahan nama sejak awal didirikan pada 1869.
Semua sudah mengakui bahwa masjid ini tertua di Kota Bandung, terlebih dengan adanya bukti foto masjid dengan sematan nama khasnya. “Sebelum berdirinya Masjid Raya Cipaganti, Masjid Provinsi Jawa Barat, Masjid Ujung Berung, ini (Masjid Mungsolkanas) dulu yang berdiri,” jelasnya sembari menunjukkan foto lawas Masjid Mungsolkanas.
Potret tersebut memperlihatkan Masjid Mungsolkanas yang masih berdinding bilik, luasnya sekitar 15 x 20 m dengan kolam ikan di muka masjid, dan daya tampung hingga 30-40 jamaah.
“Kalau dulu jamaah yang ke sini, mulai dari Gandok, Setia Budhi, sampai Cihampelas bawah. Sekarang jamaahnya yang terdekat saja,” lanjutnya.
Masih mengenang kondisi masjid di masa lalu, ternyata dulunya terdapat sebuah pemandian umum pertama di Kota Bandung yakni pemandian Cihampelas, letaknya persis di belakang Masjid Mungsolkanas, kini pemandian tersebut telah berubah menjadi apartemen.
“Jadi mau tidak mau, (karena) pusat peribadatan di sini (Masjid Mungsolkanas), dan pusat olahraga juga di sini berupa wahana berenenag dan berkuda, otomatis (suasananya) ramai.”
Didirikan ketika zaman kolonial Belanda, menjadikan satu-satunya masjid di Kota Bandung ini juga difungsikan sebagai tempat para ulama berdiskusi untuk menyusun strategi perlawanan pada penjajah.
“Masjid ini juga merupakan saksi bisu di mana para ulama dulu bebas dari kolonial belanda, karena pusat peribadatan Islam ya di sini.
Tidak menutup kemungkinan ini juga menjadi tempat untuk ulama menyusun strategi bagaimana mengalahkan penjajah pada masa waktu itu.”
Selain itu, berdasarkan kisah yang dituturkan sesepuh, lanjut Diki, Presiden pertama RI, Bung Karno disebut beberapa kali menjadikan masjid Mungsolkanas sebagai tempat istirahat usai ngampus. “Beliau (Ir. Soekarno) kan kuliah di ITB, jadi dekat ke sini. Dulu ITB ke masjid ini tidak jauh, tinggal jalan melewati persawahan,” tuturnya.
Selanjutnya Masjid Mungsolkanas mengalami empat kali renovasi, yakni pada 1997, 2001, 2004, 2007, dan yang terakhir ada pemugaran pada 2018 karena atap masjid yang bocor. Seluruh dana merupakan hasil dari swadaya dari masyarakat. Kini, luasnya mencapai 40 x 60 m dengan 3 lantai, dan dapat menampung 400 – 600 jamaah.
Tidak ada corak asli yang dipertahankan saat renovasi dilakukan, pun peninggalan dari masa lalu yang tersisa hanya sebuah Al-Quran hasil goresan tangan yang usianya sama tua dengan masjid.
“Saya berpesan pada generasi selanjutnya agar tidak meninggalkan sejarah. Kalau lupa sejarah, maka (berarti) juga lupa perjuangan ulama terdahulu,” tutupnya.


Komentar