SUMEDANG,- Takdir hanya milik Allah. Demikian pula yang dialami Iim (41) warga Desa Sawahdadap Kec. Cimanggung, anak sulungnya terseret longsor yang terjadi di desanya.
Di ladang jagung miliknya yang tidak seberapa, berdekatan dengan lokasi longsor, Iim mengutarakan rasa pilunya saat ngobrol dengan indoartnews.com disaksikan ibu-ibu Persatuan Perempuan Garuda Ceria (PPGC) Jabar, Senin (18/1-2021).
Dengan berlinang air mata dan bicara agak terbata-bata, Iim menyesal dia dan anak sulungnya kenapa harus meninjau bencana longsor.
“Saat itu, kata Iim, saya dan anak sulung yang berumur 20 tahun, Syarif sore-sore melihat musibah longsor sambil membawa HP memoto longsor untuk bahan laporan kepada majikan isteri saya di PT Kahatex,” ucap Iim.
Namun, katanya sambil terisak, dalam tempo 5 detik longsor menerjang sekitar lokasi Iim dan puteranya. Braakk…. Iim memegangi tangan anaknya namun terlepas karena lari berbeda arah.
Dengan perasaan pilu, Iim menyatakan, ia segera lari ke rumah karena teringat isterinya yang baru diopname ditemani anak ke-2 masih ada di rumah.
Begitu sampai di rumah segera membopong isteri dan anaknya keluar dari rumah yang sebagian telah ambruk ambruk diterjang longsor bersama 6 ekor kambingnya.
Nuryani (kiri) dan Iim (kanan).
Isteri Iim, Nuryani saat menceriterakan tragedi ini sambil berurai air mata. “Saya juga kaget, suami saya datang tidak bersama Syarif. Saya coba hubungi melalui HP tapi yang menjawab justru perempuan dan baru tahu yang menimpa Syarif,” ucapnya sambil terbata-bata.
Empat hari kemudian, tutur Iim jenazah Sarif ditemukan Tim Sar di timbunan tanah longsor. “Anak saya dikubur di pemakaman umum Cihanjuang bersama korban lainnya”.
Kepada indoartnews.com di hadapan ibu-ibu PPGC Jabar, Iim menyatakan, ia dan keluarga mengungsi di madrasah bersama pengungsi lainnya. Tetapi kemudian ikut bersama saudaranya masih di desa Cihanjuang agak jauh dari lokasi bencana.
Iim saat itu baru selesai memanen jagung sebanyak 3 karung dan ibu-ibu PPGC melihatnya segera membelinya. Terjual setengahnya.
Menurut Iim, ia dan keluarganya belum menerima bantuan dari desa. Sedang warga lain diberi bantuan sembako, uang atau kasur. Dia hanya baru menerima bantuan dari relawan.
Keluarga Iim masih berduka. Seandainya harus datang ke Posko bantuan di kantor desa, dia belum kepikiran karena masih shok.
Ia berharap, semoga pemerintah dapat mengganti rumah yang ambruk dan 6 ekor kambingnya. (Elly Susanto/indoartnews.com)











Komentar