Aktif di Organisasi Kemanusiaan Internasional yang Mendunia, siapa sangka Ia juga seorang Ketua PKK. Ia mantan juara di berbagai ajang Pemilihan Puteri di Indonesia. Keinginan besarnya bisa membuka jendela dunia bagi anak- anak bangsa yang terancam buta. Inilah tulisan profile wanita yang penulis angkat dari sisi seorang Yani Asmawinata yang berbeda di Bedanews.com yang memang beda gaya.
Cita-citanya kandas Jadi Pramugari. Ia memilih bekerja di perusahaan perbankan sebagai profesi. Dari remaja rajin mengikuti ajang pemilihan putri. Setelah bekerja dan menikah tak menghalangi aktif di berbagai organisasi. Namun semua berjalan alami karena didukung keluarga dan suami. Maka berbagai penghargaan pun sempat ia raih sebagai apresiasi kinerja dan prestasi. Dan dari berorganisasi ini banyak butir-butir kehidupan yang tak didapat kalau berdiam diri.
Yani Asmawinata, wanita berpenampilan rapih dengan rambut panjang tergerai di dada. Mengenakan blouse berhiaskan bros berbentuk pita besar merupakan ciri khasnya, itu membuatnya tampil anggun dan ciamik saat penulis menemuinya. Sepintas saja kita bisa ambil kesan kalau ia adalah seorang wanita sukses yang penuh talenta.
Setelah lebih dekat dengannya, sosoknya makin terlihat berbeda dan istimewa. Selain seorang ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang yang bergerak di bidang wiraswasta, ia juga wanita pekerja, yang aktif di beberapa organisasi nirlaba, komunitas olahraga, organisasi perempuan seperti di P2LIPI (Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia), dan PKK, bahkan menjadi pengurus Pramuka.
Itu sungguh aktivitas yang tidak biasa. Jarang sekali orang apalagi wanita karier yang mantan juara berbagai ajang pemilihan Puteri menjadi Ketua PKK di lingkungan tempat tinggalnya. Kepanjangan PKK sering jadi bahan plesetan bukan “Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga” tapi menjadi “Perempuan Kurang Kerjaan” karena biasanya dilakukan oleh ibu rumah tangga biasa dan dipandang dengan sebelah mata.
Menjadi Ketua PKK bagi Yani amatlah Mulya. “Banyak suka dukanya. Kita sering digedor warga malam-malam karena ada yang meninggal dunia. Kadang melerai pertengkaran warga. Atau apa saja masalahnya, namun kita ikhlas menjalaninya. Dan bila diterima warga itu cukup membuat hati bahagia,” ungkap Yani berkisah tentang pengalamannya menjadi Ketua PKK.
Memang, menjadi aktivis beberapa organisasi, sementara bekerja sesuai profesi yang ditekuni, meninggalkan anak dan suami, itu memerlukan suatu strategi. Di dalamnya melibatkan hati dan kreasi sehingga melahirkan suatu kolaborasi yang bisa menjadi inspirasi dan terkadang melibatkan emosi. Banyak kasus terjadi, aktifnya isteri di berbagai organisasi, tanpa didukung suami, rumah tangganya hancur gegara kebablasan memaknai emansipasi.
Tidak demikian halnya dengan Yani. Ia lahir sebagai puteri dari seorang prajurit TNI. Suaranya lembut, tertata penuh etika yang mencerminkan kuatnya prinsip jati diri. Rupanya sejak remaja dara Bandung itu rajin mengikuti berbagai ajang pemilihan putri, yang mengantarkannya bekerja di dunia perbankan tanpa melalui seleksi.
Yani Asmawinata
Padahal dulu cita-citanya adalah menjadi seorang pramugari. Pikirnya, alangkah hebatnya menjadi pramugari, bisa menjelajah belahan dunia dan antero negeri. Namun Asmawinata sang ayah tidak menyetujui.
Di mata ayahnya, menjadi pramugari walau penampilan elegan, tetap saja seorang pelayan, tapi resiko bekerjanya rawan kecelakaan. Bedanya kalau pelayan biasa bekerja di daratan seperti di restoran, pelayanan publik kesehatan, pelayanan perbankan, dsb. Sedangkan pramugari bekerja melayani penumpang di dalam penerbangan.
“Buat apa jadi pramugari, sudah saja pilih kerja di bank lagian sudah diterima tanpa seleksi,” itu nasehat ayahnya yang tak terlupakan yang mengkhawatirkan Puteri kesayangannya.
Meski kecewa, mantan juara 3 Puteri Sari Ayu utusan Jabar di tingkat nasional tahun 1988 itu tak membantahnya. Yani pun menuruti nasehat ayahnya memilih dunia perbankan sebagai tempat bekerja. Padahal proses perekrutan pramugari yang amat ketat dengan berbagai test sudah ia jalani dan lulus semua.
Dari 1500 pelamar di seluruh Indonesia, hanya 50 orang yang diterima dan Yani termasuk di dalamnya. Namun apa boleh buat Yani harus mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Yaitu membiarkan cita-citanya kandas tak menjadi nyata. Saat mengikuti karantina untuk penerbangan pertama, tegas menyatakan berhenti sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan ternama.
Masa-masa remajanya memang banyak dihabiskan di Pramuka dan dengan mengikuti berbagai ajang pemilihan puteri di dalam negeri. Di antaranya seperti Pemilihan “Mojang Priangan”, “Puteri Ideal”, “Putri Indonesia”, “Putri Sari Ayu”, yang diselenggarakan oleh perusahaan kosmetik dalam negeri. Dari sini, berbagai penghargaan pun telah disandangnya dengan banyak prestasi. Dari prestasi inilah yang membuat wanita ayu ini ditawari bekerja di salah satu bank swasta tanpa seleksi. Profesinya ini sampai kini masih ia tekuni selama 30 tahun tanpa henti.
Namun dalam perjalanan kariernya, ada sesuatu yang dirasa kurang yang membuatnya resah. Di awal-awal bekerja sampai 1 dasa warsa lebih bekerja di bank hanya rutinitas yang monoton dengan seabreg masalah. Ibu dari Diyaksa Azani Pratama dan Intan Denisya Putri itu merasa di dalam dirinya ada yang salah.
Jiwanya meletup-letup dan meronta ingin berbuat sesuatu untuk negeri yang berguna dan membawa berkah. Namun sebagai seorang isteri dan wanita timur yang menjunjung adat istiadat tradisional seakan gamang untuk berkiprah. Terjadi perang dalam sukmanya yang membuatnya gelisah.
Yani Asmawinata
“Sanggupkah aku menjadi ibu dan isteri yang baik sekaligus menjadi wanita karier dengan aktif di organisasi, tapi bisa memberi sumbangsih terhadap negeri,” jerit hati mantan Puteri Ideal itu bertanya pada diri sendiri.
Akhirnya keberaniannya muncul untuk mencoba sesuatu yang baru. Wanita asli Sunda kelahiran Bandung itu keluar dari lingkaran rutinitas kerja yang kaku. Dan memang, masalahnya bukan tidak mampu, tapi sanggupkah punya komitmen antara kerja, ibu rumah tangga dan organisasi dalam membagi waktu.
Setelah aktif di Pramuka Kwarda Jawa Barat yang ia geluti lebih dulu, Yani pun mulai aktif mengikuti kegiatan sosial di Lions Club, namun tak berani menjadi anggota sampai 2 tahun berlalu. Baru pada tahun 2004 karyawati bank swasta itu menceburkan diri menjadi anggota Lions Club tanpa ragu.
Dari Lions Club inilah mata hatinya kian terbuka. Betapa banyak di luar sana orang yang menderita. Tidak bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, juga orang tua. Semua berjuang dalam menjalani kehidupan yang begitu keras mendera.
Seperti di Jelekong, kawasan Baleendah. Banyak sekali terdapat anak putus sekolah. Menurut wanita kelahiran tahun 1968 ini, putus sekolah bukan berarti putus pula kehidupan dan harapan jadi musnah. Dengan jabatan Presiden Lions Club Bandung Raya saat itu, pikiran cerdasnya kian terasah mencari solusi tiap masalah.
“Saya melihat banyak pabrik yang membuang kain perca menjadi sampah. Kenapa itu tidak kita olah. Kain-kain perca itu kita buat sebagai bahan kerajinan yang dilakukan anak-anak putus sekolah menjadi lap, alas makanan, dan kesed yang indah. Mereka kita beri pelatihan membuatnya dan dan buah karya mereka itu bisa dibeli dengan murah. Bahkan kita bantu pasarkan juga ke supermarket dan mal-mal mewah,” jelas Yani dengan mata berbinar.
Sebagai Head Group Bank, pergaulannya memungkinkan ia bertemu dengan berbagai kalangan “stakeholder”, linknya makin luas dalam berkomunikasi atau kerjasama dengan organisasi yang digelutinya.
Pernah suatu saat, bank darah di PMI terjadi kelangkaan ketersediaan darah. Kembali kreatifitasnya berjalan dan terarah. Yani yang Ketua Yayasan Lion Mengabdi Indonesia (YLMI) itu, melakukan aksi gebrakan gerakan donor darah yang menghasilkan 1500 kantung labu darah dalam jangka satu hari yang biasanya hanya menghasilkan 150 – 200 kantung labu darah. Itu tidaklah lumrah. Namun begitulah bila kreativitas sudah terasah.
Memanfaatkan hubungan baik dengan salah seorang petinggi IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), yang tarunanya sehat dan rutin melakukan donor darah, jadilah kerjasama aksi donor darah yang hasilnya membuat kita terperangah.
Yani Asmawinata bersama Istri Wakil Gubernur Jabar Lina Marlina Ruzhan, Saat Kunjungan PPLI Jabar ke Sekretariat SMSI Jabar
“Darahnya langsung didistribusikan oleh PMI ke PMI cabang Cianjur, Sukabumi, Garut, Bandung, Subang, dan Majalengka yang wilayahnya benar-benar darah menjadi barang langka. Bahagia rasanya bisa berbuat sesuatu karena saat itu terjadi kekosongan ketersediaan darah di mana-mana,” jelas Yani mengisahkan pengalamannya.
Kiprahnya di Lions Club dengan berbagai kegiatan sosial sudah tak terhitung. Sejalan dengan perjalanan waktu, kian hari kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang dilakukan dengan pimpinan Lion Yani sudah kian menggunung. Berbagai jabatan dan penghargaan pun sudah tak terbendung.
Penghargaan “The Best President”, yang pernah diraihnya berkali-kali itu memang pantas. Hal itu mengantarkan Lion Yani sampai 3x menjabat Presiden Lions Club Bandung Raya pada tahun 2012, 2013 dan 2014. Penghargaan lainnya seperti “The Best Secretary”, dan penghargaan pengabdian 15 tahun di Lions Club juga diraih karena terus eksis selama 15 tahun dan dinilai semua program yang digariskan oleh pusat bisa dijalankan dengan baik dan tuntas.
Kegiatan sosialnya tiada pernah henti untuk bangsa. Tak hanya melaksanakan program yang telah ditetapkan Lions Club pusat di pundaknya. Dengan “sense of social” yang sudah dalam tertanam di jiwanya, Lion Yani langsung terjun bersama timnya seperti bantuan logistik di daerah bencana, bantuan kepada warga yang tak punya penghasilan akibat terdampak pandemi Corona, dan bantuan kain kafan serta mukena ke masjid-masjid dan mushola.
Begitulah satu demi satu Program Lions Club dilaksanakan demi kemanusiaan dan masa depan anak Indonesia dalam menyongsong masa depan. Program peduli anak penderita kanker, peduli diabetes, peduli lingkungan hidup dan program peduli anak dari kebutaan mutlak harus dilakukan. Maka pemeriksaan mata terhadap 5000 anak bangsa dengan memberikan 1000 kacamata gratis hasil kerjasama dengan “Essilor Vision Foundation” Singapura yang semula kondisi mata anak memprihatinkan berubah jadi menggembirakan. Dengan mata sehat jendela dunia terbuka dan bisa melihat indahnya kehidupan.
“Hati saya begitu tersayat. Dari fakta yang didapat, tiap pemeriksaan yang dilakukan terhadap 400 anak, hasilnya ternyata 125 anak harus memakai kacamata, ini membuat saya begitu terperanjat. Apalagi ada seorang anak pemulung yang tak bisa belajar ternyata matanya minus 13 dari pemeriksaan yang akurat. Sedihnya, menurut pengakuan orangtuanya, jangankan buat beli kacamata, untuk makan sehari-hari pun amat sulit didapat,” ujar Yani mengenang kasus anak miskin yang mengalami gangguan penglihatan dengan nada masygul dan suara tercekat.
Sampai di sini, matanya berkaca. Tak sanggup lagi mengungkap dengan kata. Walau kinerja dan karyanya diapresiasi dengan banyak penghargaan yang diperolehnya, namun istri dari Deny Wibawa Mukti ini merasa masih belum berbuat apa-apa, karena di luar sana, masih banyak orang dan anak yang membutuhkan bantuannya.
Itulah profile seorang Yani Asmawinata aktivis organisasi dengan seabreg prestasi. 15 jabatan pernah dipegang selama hampir 16 tahun mengabdi di Lions Club dan 30 tahun di dunia perbankan yang ditekuni sebagai profesi. Dari anggota, sekertaris, Presiden, bendahara Club dan Kabinet, sampai ketua wilayah Lions Club Distrik 307 B2. Kini ia menduduki sebagai Ketua Yayasan Lion Mengabdi Indonesia (YLMI), Council Chairment dan Ketua Komite Konvensi Nasional dan Internasional. Pengurus Pramuka Kwarda Jabar, Pengurus Kowarnas dan pengurus PPLIPI sebagai Wakil Ketua III yang membawahi 4 komisi. (Siti Sundari/bedanews.com)
JAKARTA – Gagasan transformasi paradigma advokat sebagai officium nobile kembali mengemuka. Kali ini disampaikan Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Advokat Indonesia Profesional (PERADI
Jakarta — Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program Ekspedisi Masjid Indonesia (EMI) sebagai bagian dari upaya pelayanan kepada masyarakat selama arus mudik
Transformasi digital dalam birokrasi pemerintah melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) tidak hanya membawa kemudahan layanan publik, tetapi juga memunculkan konsekuensi hukum
Catatan Seorang Deklarator PERADI PROFESIONAL Oleh: DR. Hendra Dinatha, S.H., M.H. Deklarator PERADI PROFESIONAL dan Juga Wakil Rektor Universitas Jayabaya, Jakarta Abstrak
Komentar