CIMAHI, AYOBANDUNG.COM — Ratusan sekolah mulai dari jenjang TK/PAUD, SD, hingga SMP di Kota Cimahi menggelar simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM), pada Senin 24 Mei 2021. Hal ini dilakukan sebagai persiapan pembelajaran langsung di sekolah yang direncanakan pada 19 Juni 2021 mendatang.
Simulasi ini berlangsung selama enam hari hingga 31 Mei 2021 mendatang. Tercatat 27 TK/PAUD, 116 SD, dan 37 SMP yang melaksanakan simulasi PTM ini.
Salah satu sekolah yang melaksanakan simulasi PTM adalah SDN Cimahi Mandiri II, di Jalan Djulaeha Karmita, Kota Cimahi. Tampak para siswa memasuki ruang kelas. Berbeda saat sebelum Pandemik Covid-19, pembelajaran kali ini mewajibkan siswa memakai masker.
Selain itu, mulai dari memasuki gerbang sekolah, jarak para siswa diatur, wajib mencuci tangan sebelum masuk kelas, kemudian di dalam kelas, kapasitas hanya 50 persen. Siswa harus duduk sendiri-sendiri dengan masker selalu melekat menutup mulut dan hidung sebagai bagian dari ikhtiar untuk mencegah penularan COVID-19.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Cimahi Ngatiyana memantau langsung pelaksanaan simulasi PTM dihari pertama ini. Dirinya mengklaim hari pertama uji coba ini sudah sesuai dengan aturan yang ditentukan sebelumnya.
Dirinya sangat menekankan soal penerapan protokol kesehatan selama simulasi PTM, misalnya sterilisasi ruangan kelas sebelum dan sesudah digunakan hingga siswa dan guru tidak berkerumun.
Pihak sekolah juga wajib menyediakan ruang isolasi yang bakal digunakan untuk merawat siswa yang sakit selama simulasi PTM berjalan.
“Sterilisasi kelas wajib dilakukan, ruangan disemprot dulu baru siswa bisa masuk setelah dipakai disemprot lagi. Kita siapkan ruangan isolasi juga, jadi apabila ada siswa sakit dan panas nanti diperiksa di situ. Langkah ini dipersiapkan secara matang,” katanya.
Selama simulasi PTM berjalan, siswa yang diizinkan mengikuti pembelajaran maksimal hanya 15 siswa setiap kelasnya. Sementara untuk TK hanya 5 orang setiap kelasnya.
“Jumlah siswa maksimal 15 orang satu kelas, jadi kalau ada 40 orang satu kelas maka dibagi tiga sesi 15-15-10. Itu untuk menghindari penumpukan di dalam kelas. Durasi PTM juga dibatasi, 2 jam untuk SD dan 3 jam untuk SMP,” terangnya.
Ngatiyana menegaskan jika ditemukan kemunculan klaster baru dari pelaksanaan simulasi PTM. Hal itu akan berujung pada penghentian simulasi bila diperlukan.
“Kalau misalnya nanti ada kemunculan hal yang tidak diinginkan (klaster baru) akan dievaluasi. Kalau memang perlu ya bisa dihentikan. Tapi kan kita sudah lakukan segala upaya antisipasi, ini fungsinya mencegah hal itu,” pungkasnya.










