GARUT– Wakil Bupati Garut Helmi.Budiman bersama Danrem 062 Tarumanagara, Kolonel Inf. Muhamad Muchidin, dan Dandim 0611 Garut, Letkol CZI Deni Iskandar, dan Kadivreg Perhutani Jabar, Dicky Iwana Radi, memantau dari udara kondisi lahan pasca Banjir bandang dan longsor 11 Oktober kemarin menggunakan dua pesawat helicopter.
Bersama Plt. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Resiko Bencana (PERB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, Abdul Muhari, meninjau titik lokasi hutan gundul yang berdampak terhadap terjadinya bencana alam, pada Minggu (25/10/2020).
Plt. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Resiko Bencana (PERB) BNPB RI, Abdul Muhari, mengatakan, ada dua tujuan peninjauan yang dilakukannya, pertama, pasca terjadi Banjir bandang dan longsor di wilayah selatan Garut baru-baru ini, yang dikhawatirkan ada perubahan bentang alam skala mikro.
“Kita mau coba capture DAS (Daerah Aliran Sungai) Cikaso ini dari hulu sampai hilir,” ucap Abdul Muhari, di Markas Korem 062 Tarumanagara, Jalan Bratayudha Garut, Senin (26/10).
Menurutnya, hal ini sangat rawan, bila terjadi lagi hujan beberapa hari, minggu dan bulan kedepan, karena, hujan masih terjadi sampai Februari dan Maret. Hal inilah yang harus diidentifikasi supaya tidak terjadi lagi Banjir kedepannya.
“Jadi kita mau lihat. Kalau ada bendung-bendung alam segera kita intervensi, kita bersihkan. ada BP-DAS di sini juga BNPB, sehingga kita benar-benar bisa memastikan tidak ada potensi Banjir longsor yaang akan membawa material dari hulu,” bebernya.
Kedua, lanjut Muhari, BNPB akan melihat secara riil pada kondisi saat ini bentang alam yang ada di DAS Cikaso, termasuk lokasi lahan kritis ada di mana saja.
“Arahan Kepala BNPB kalau memang ditemukan lahan kritis itu akan ditanami dengan tanaman-tanaman keras, supaya ini tidak menjadi bahan longsor,” jelasnya.(Nandang/onediginews).











Komentar