GMFKPPI 10.11/Garut Turut Mendukung Inovasi Kreatif Yudi Layung Cs
Kab Garut – Sampah merupakan masalah lingkungan hidup yang dihadapi oleh indonesia maupun dunia. Penanganan limbah sampah organik di Garut khususnya masih sangat rendah, untuk sampah limbah jenis organik kebanyakan hanya dijadikan pupuk organik saja, itupun hanya skala kecil.
Sebagaimana yang kita ketahui energi yang terdapat pada limbah sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi energi terbarukan berupa biogas, biodiesel dan dapat dikonversikan juga menjadi energi listrik seperti halnya yang dilakukan oleh Yudiana Cs, kreator dari Garut ini berhasil mengkonversikan sampah menjadi Gas LPG dan Listrik.
Berawal dari ingin menciptakan kampung yang bersih dan sehat, seorang warga Kampung Cisewu Desa Cisewu Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut, Yudiana yang akrab di sapa Yudi Layung (39) dengan kreatifitas yang tinggi ia berhasil mengkonversi gas LPG dan listrik dari hasil pengolahan sampah. Namun inovasi kreatif tersebut sampai sekarang ini belum mendapatkan respon positif dari pihak pemerintah.
Padahal dapat diperkirakan oleh kita bila setiap rumah tangga memiliki instalasi biogas dari sampah organik maka hal tersebut dapat menekan pengeluaran biaya hidup yang tentunya itu sangat membantu adanya serta dapat mengurangi kapasitas tempat pembuangan sampah (TPS) yang semakin hari semakin kekurangan ruang penampungan.
Dalam pengelolaan sampah, Yudi bersama kelompok tani awalnya mendapatkan ejekan dan cemoohan. Bahkan tim yang digagasnya hampir setiap hari memungut sampah dari setiap rumah warga dengan menggunakan roda dua yang untuk selanjutnya diolah menjadi gas dan listrik.
Yudiana tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA), sejak awal hanya mencoba dalam pengolahan sampah menjadi gas dan listrik dengan alat yang sangat sederhana. Dalam pengelolaannya bersama tim hanya mengandalkan bahan baku oli bekas sebagai bahan bakar untuk mengelola sampah.
Sedangkan peralatan lainnya guna menampung sampah mereka membuat tong dari plat besi yang dikumpulkan secara gotong royong. Bahkan saat ini pengolahan sampah menjadi gas dan listrik sudah bisa dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Cisewu. Namun lantaran belum memiliki payung hukum Yudi tidak berani hasil karya bersama teman-temannya digunakan untuk kepentingan masyarakat.
“Alat dibuat dengan sederhana, bahan baku dengan mengambil dari rumah warga. Sekarang banyak warga yang secara langsung memberikan sampah untuk diolah,” ujar Yudi Layung seperti yang dikutip Galamedia pada Rabu (26/8).
Dikatakan Yudi, guna menampung sampah yang dibuang oleh warga, pihaknya sengaja menyiapkan lahan seluas satu hektare yang berlokasi di Kampung Cisanten, Desa Cisewu. Lahan tersebut selain digunakan untuk mengumpulkan sampah sekaligus dijadikan tempat pengolahan.
Yudi menjelaskan, sampah yang dikumpulkan ternyata bisa dimanfaatkan untuk dijadikan gas LPG dan listrik. Dari 70 Kg sampah yang sudah dipilih dengan tingkat kekeringan 60 persen langsung dimasukan kedalam tong guna dibakar agar menghasilkan gas.
“70 Kg sampah bisa menghasilkan gas sebanyak 48 tabung dengan waktu selama 2 jam. Sedangkan untuk dijadikan listrik dari satu tabung gas bisa menghasilkan daya sebesar 900 Watt. Namun itu belum bisa dinikmati oleh masyarakat karena terbentur payung hukum. Kami belum berani, hanya mencoba saja,” ucapnya.
Kreatifitas inovasi yang sedang dilakukannya ini, kata Yudiana baru berjalan selama 3 bulan. Hanya saja dengan keterbatasan alat dan biaya, kegiatannya dilakukan hanya dua hari selama satu minggu.
“Jika memang bermanfaat bagi masyarakat, saatnya pemerintah merespon apalagi saat ini perekonomian masyarakat sedang krisis. Bayangkan gas yang dihasilkan bisa dijual dengan murah, cukup dengan modal Rp 80 ribu bisa menghasilkan sebanyak 48 tabung gas berukuran 3 Kg,” katanya.
Ia juga berharap, pemerintah bisa mempasilitasi dan memberikan payung hukum yang jelas bagi jalannya kelompok tani dalam pengelolaan sampah.
Yudiana juga mengaku, dalam mengolah sampah menjadi gas dan menjadi listrik ini pun perelatan gansetnya mendapat pinjaman milik Mesjid Agung yang berada di Kecamatan Cisewu. Tenyata, gas hasil pengolahan dari sampah tersebut bisa menghasilkan listrik.
Yudiana, sangat ingin hasil karya yang dibantu oleh kelompok tani bisa dirasakan oleh masyarakat. Setiap hari dan setiap malam hanya bisa merenung bagaimana solusinya agar bisa mendapatkan respon dan payung hukum dari pemerintah. Pungkasnya.
Sementara itu saat dimintai tanggapannya oleh tarungnews.com terkait kreatifitas inovasi dari Yudi Cs, Ketua GMFKPPI Pengurus Cabang 10.11/Garut, H. Endang Rushendar memberikan tanggapannya, “Kami dari GMFKPPI 10.11 Garut merasa takjub dan sangat mendukung karya kreatif warga Cisewu tersebut.
Jika inovasi kreatif ini bisa terus dikembangkan dengan baik, tentu pengolahan sampah menjadi energi alternatif ini dapat mendatangkan keuntungan. Yang terpenting, hal ini bisa mengurangi sampah yang sulit didaur ulang dan sekaligus sebagai energi alternatif menggantikan bahan bakar dari fosil.
Dengan aktifitas kreatif dari saudara Yudi Cs tersebut maka sampah tidak lagi menjadi masalah dan Pemerintah bersama dengan masyarakat dapat bekerjasama menanggulangi masalah sampah yang semakin parah.” ungkapnya di Kantor Sekretariat GMFKPPI 10.11/Garut, Jl. Subyadinata, Tarogong Kidul. Robi/Alam-tarungnews.com Biro Garut











Komentar