oleh

Ulasan Blow the Man Down

Kehidupan di kota kecil yang penuh rahasia dan misteri memang menarik untuk diangkat. Dengan segala aspek lokalitas, Blow the Man Down menawarkan sesuatu yang segar untuk genre Comedy, Drama dan Mystery.

Blow the Man Down adalah film drama pembunuhan yang ditulis duo sineas debutan Bridget Savage Cole dan Danielle Krudy. Film ini memulai debut di ajang Tribeca Film Festival 2019 dan didistribusikan secara streaming oleh Amazon Studios sejak Maret 2020. Film ini dibintangi para pemain yang tak familiar bagi kita, seperti Morgan Saylor, Sophie Lowe, Margo Martindale, serta Anette O’Toole.

Alkisah, sebuah kota pelabuhan terpencil di Mayne, wilayah utara Amerika Serikat (AS). Dua saudari, Priscilla dan Mary Beth ditinggal mati sang ibu. Dalam acara berkabung di rumah, Mary Beth tanpa sengaja mendengar jika rumah mereka akan disita karena hutang mendiang sang ibu. Pris dan Mary beradu mulut hingga sang adik mengancam bakal pergi. Malamnya, Mary datang ke sebuah bar dan pergi dengan Gorsky, seorang pria hidung belang. Ketika Mary tanpa sengaja melihat sesuatu di bagasi mobil Gorsky, ia pun merasa terancam dan tak sengaja membunuh pria hidung belang itu. Tanpa disadari, Pris dan Mary terjebak dalam suatu konflik yang melibatkan warga kota, termasuk mendiang ibunya.

Baca Juga  L’Oréal Professionnel Gelar Peluncuran Virtual Smoky Hair Meriah Dengan Gebyar Puluhan Hadiah!

Blow the Man Down memang banyak mengingatkan pada film kriminal berkelas semacam Fargo (1996). Tak banyak latar informasi cerita yang tersaji di filmnya. Tidak ada alur investigasi yang rapi seperti genre pembunuhan lazimnya dan penonton pun harus melakukannya sendiri. Kita harus benar-benar mencermati, khususnya adegan dan dialog untuk bisa mencerna info cerita. Tak sulit memang, tapi kita pasti bakal melewati satu atau dua informasi kecil.

Baca Juga  Wisata Gunung Puntang Terapkan Protokol Kesehatan Selama Pandemi

Rasa penasaran makin menjadi ketika Pris dan Mary terjebak dalam situasi pelik. Semakin lama, rahasia dari beberapa pihak pun mulai terkuak, yang melibatkan satu rumah prostitusi yang dikelola oleh seorang perempuan bernama Enid. Kekuatan naskah film ini mampu menjaga intensitas dramatik dengan menahan informasi sedikit demi sedikit hingga kisahnya tak mampu kita antisipasi hingga akhir.

Selain itu, unsur lokalitas adalah satu hal yang jadi kekuatan film ini. Sejak adegan pembuka, disajikan choir yang khas yakni lagu “Blow the Man Down” yang dibawakan oleh para nelayan warga kota. Unsur salju yang mengiringi sepanjang film juga sangat pas mendukung tone film yang dingin dan misterius. Kasting pemain mengaggumkan tanpa cacat, khususnya dua tokoh protagonist utama hingga para pemain gaek, sekelas Margo Martindale sebagai Enid.

Baca Juga  The Trans Luxury Hotel Masuk Nominasi di World Travel Awards 2020

Blow the Man Down adalah sebuah drama pembunuhan yang unik. Didukung kuat para pemain, lengkap dengan segala atribut lokal. Film ini jelas bukan film yang bertutur secara gamblang dan mudah. Tak mudah pula untuk diapresiasi.

Bagi kita yang tak akrab dengan kehidupan tempat dalam film ini, rasanya ada sesuatu yang hilang karena kita seolah bukan bagian dari mereka. Ide besarnya jelas tak sulit dipahami. Apa yang terjadi di kampung (kota kecil ini) tetaplah menjadi rahasia kampung. Mereka melindungi satu sama lain dan tak membiarkan orang luar mengganggu mereka.(Aini Tartinia/Ayobandung.com)

Komentar

News Feed