BANDUNG — Pada pekan ini, positivity rate Covid-19 di Kota Bandung melonjak hingga menyentuh 21,53%. Angka tersebut lebih tinggi dari batas maksimal yang ditetapkan WHO yakni 5%.
Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna mencermati kenaikan ini yang artinya ada percepatan sebaran kasus positif.
Meskipun angka reproduksi kasus Covid-19 masih di bawah 1, yakni 0,81, Ema mengatakan hal tersebut tidak bisa dianggap remeh. Melejitnya angka positivity rate menunjukan tingginya transmisi lokal kasus Covid-19 di tengah masyarakat Kota Bandung.
“Angka reproduksi masih di bawah 1, tapi positivity rate seperti ini berarti transmisinya (tinggi). Ada percepatan transmisi karena yang kontak erat (dengan pasien positif Covid-19) semakin banyak,” ungkap Ema.
Dalam dua pekan, peningkatan angka positivity rate Kota Bandung mencapai tiga kali lipat. Pada 11 November, Ema mengumumkan positivity rate Kota Bandung masih berada di angka 7,02%.
Bila merujuk pada pengertian yang dipaparkan John Hopkins Bloomberg School of Public Health melalui laman web-nya, angka positivity rate menjadi rujukan untuk mengetahui seberapa tinggi level transmisi lokal kasus Covid-19 di suatu daerah. Juga dapat dijadikan tolak ukur, apakah daerah tersebut sudah melalukan pengetesan Covid-19 yang memadai.
Angkanya didapat dari jumlah kasus positif dibagi jumlah tes PCR yang dilakukan, dan dikali 100%.
“Persentase-nya akan tinggi apabila jumlah kasus positif dari sebuah pengetesan terlalu tinggi, atau bila total jumlah pengetesan yang dilakukan masih terlalu rendah,” tulis keterangan kampus Johns Hopkins dalam laman web jhsph.edu yang dilansir Kamis (26/11/2020).
Persentase yang tinggi, tulis keterangan tersebut, mengindikasikan bahwa ada transmisi penularan yang tinggi di daerah yang bersangkutan. Juga, masih banyak orang dalam lingkungan tersebut yang belum dites Covid-19.
Johns Hopkins menyebutkan, sebagai ukuran, persentase positivity rate disebut terlalu tinggi apabila melampaui 5%. Pada Mei 2020, WHO menyarankan sebuah daerah untuk menjaga positivity rate mereka berada di bawah 5% setidaknya selama dua minggu berturut-turut sebelum pemerintah melakukan relaksasi kegiatan warga.
“Persentase yang tinggi menunjukan bahwa pengetesan yang lebih banyak harus dilakukan, dan hal tersebut menunjukan bahwa bukan saat yang tepat untuk daerah yang bersangkutan melakukan relaksasi,” tulisnya.











Komentar