CIREBON – Masyarakat di Wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) diminta mewaspadai bencana alam yang berpotensi terjadi pada masa peralihan/pancaroba saat ini.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geologi (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka menyebut, masa pancaroba sudah berlangsung pada Oktober dasarian I (tanggal 1-10).
“Pancaroba sudah mulai di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka bagian selatan,” kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Ahmad Faa Izyn.
Daerah lain di Wilayah Ciayumajakuning diprediksi akan memasuki masa pancaroba pada Oktober dasarian II (tanggal 11-20).
Pihaknya mengingatkan masyarakat berhati-hati terhadap dampak cuaca ekstrem, seperti hujan lebat yang disertai angin kencang, puting beliung, maupun petir.
“Ada potensi terjadi bencana, seperti tanah longsor, banjir, gerakan tanah, pohon atau baliho tumbang, dan lainnya,” cetusnya.
Sejauh ini, cuaca ekstrem telah berdampak pada beberapa kawasan di Kabupaten Kuningan. Hujan lebat yang turun menyebabkan tanah longsor dan pergeseran tanah di 5 titik pada akhir pekan lalu (3-4 Oktober 2020).
“Ada 5 titik yang kena bencana longsor dan gerakan tanah. Tapi tak ada korban jiwa,” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu.
Ke-5 titik itu masing-masing Dusun Cirahayu RT 40 RW 11, Desa/Kecamatan Subang berupa tanah longsor, Sabtu (3/10/2020) pukul 23.00 WIB. Longsor terjadi sepanjang 25 m, dengan tinggi 5 m dan lebar 6 m yang mengancam rumah seorang warga.
Keesokan harinya, Minggu (4/10/2020) pukul 10.00 WIB, bencana tanah longsor kembali terjadi Desa Subang, tepatnya pada akses jalan Desa Subang-Desa Situgede-Desa Gunung Aci.
Selain tanah longsor, bencana pergeseran tanah juga terjadi di 3 desa berbeda lainnya. Di Dusun Manis RT 4 RW 2 Desa Mandapajaya, Kecamatan Cilebak, pergerakan tanah yang terjadi pada Sabtu (3/10/2020) pukul 23.00 WIB menyebabkan 2 rumah warga rusak berat dan 8 rumah warga lainnya terancam.
“Pergerakan tanah di sana terjadi karena anak Sungai Citenjo meluap dan mengikis tanah sebelah bawah. Tanah sebelah atas jadi bergerak dan amblas setinggi 100 cm dan panjang 20 m,” jelasnya.
Dia menjamin, warga di 2 rumah yang rusak berat sudah dievakuasi ke rumah kerabatnya. Sementara, penghuni 8 rumah yang terancam, hanya dievakuasi kala hujan deras.
Bencana serupa melanda pula warga di Dusun Pahing RT 14 RW 04, Desa Jatisari, Kecamatan Subang, Minggu (4/10/2020) pukul 00.30 WIB. Berawal dari tanah longsor pada lahan pertanian yang berjarak sekitar 40 meter dari pemukiman, kejadian itu lantas memicu gerakan tanah pada pemukiman.
Akibatnya, jalan Dusun Cisawah retak-retak sepanjang 100 meter. Sementara, 11 rumah warga terancam dan 3 rumah warga lainnya sudah retak-retak.
“Aparat desa bersama masyarakat sekitar membantu proses evakuasi warga yang rumahnya terancam saat terjadi hujan deras,” tuturnya.
Di Dusun Manis RT 13 RW 3, Desa Pamulihan, Kecamatan Subang, pergerakan tanah pada (4/10/2020) pukul 05.00 WIB mengakibatkan tanah retak sepanjang 50 meter, lebar 100 meter, dan tinggi 10 meter, terutama pada akses jalan.
Warga dan aparat desa setempat pun berupaya menutup rekahan tanah pada jalan untuk meminimalisir bahaya dan memangkas pohon untuk mencegah gerakan tanah susulan.
“Ada 4 rumah rusak ringan dan 3 rumah lain terancam. Para pemilik rumah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman kalau hujan deras kembali turun,” tandasnya. (ayobandung.com)











Komentar