BANDUNG,- Anggota Komisi I DPR RI, Muhammad Farhan, angkat bicara setelah ia mendengar kabar akan adanya lelang pengelolaan Pasar Baru Bandung.
Hal tersebut disampaikannya kepada wartawan usai meninjau kondisi Pasar Baru Trade Center, Jl. Otista, Kota Bandung, (22/10/2020).
“Kondisi sekarang Pasar Baru memprihatinkan,” ujar Muhammad Farhan.
“Saya dengar akan ada lelang pengelolaan, antara PD Pasar Bandung Bermartabat dengan KSO dari pihak swasta,” katanya.
Muhammad Farhan berharap pemenangnya profesional dan berpengalaman untuk mengelola salasatu pusat perdagangan terbesar di Kota Bandung.
“Kita harus sama-sama memastikan bahwa pemenangnya ini adalah kelompok usaha yang sangat profesional dan sudah berpengalaman yang bisa bekerjasama dengan para pedagang dan juga bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada Kota Bandung. Karena tanpa pusat perdagangan sebesar Pasar Baru ini, Kota Bandung bermasalah,” bebernya.
Pandangan tersebut disampaikannya, karena menurutnya Kota Bandung merupakan gudangnya pengrajin dan sentra produk tekstil.
“Karena disini ini (Pasar Baru), adalah produk hilir. Hulunya banyak, seperti pengrajin dan sentral tekstil. Itu kan salasatu urat nadi perekonomian Jawa Barat dan Kota Bandung. Jadi, kita betul-betul sangat menantikan sebuah solusi dan terobosan yang bagus dari PD Pasar Bandung Bermartabat untuk mencari mitra KSO yang baik dan tentu saja yang bisa memberikan manfaat yang besar bagi Kota Bandung tercinta ini,” harap anggota DPR RI dari Partai NasDem Dapil Jabar 1 tersebut.
Kunjungan Muhammad Farhan ke Pasar Baru ini dalam rangka reses hari terakhirnya di Kota Bandung.
Muhammad Farhan sendiri tiba di Pasar Baru Bandung sekitar pukul 13.00 WIB, kemudian menyerap aspirasi dari para pedagang, antara lain yang tergabung dalam Himpunan Pedagang Pasar Baru Bandung (HP2B). Selanjutnya meninjau situasi area pasar dari mulai lantai 6 hingga ke lantai dasar. Umumnya pusat perdagangan Pasar Baru Bandung ini menawarkan beragam produk tekstil.
Sekjen HP2B, Yenda, disela kunjungan Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pengunjung dan pembeli ke Pasar Baru Bandung terus terjadi, bahkan dimulai sebelum adanya pandemi global Covid-19.
“Sebelum adanya pandemi Covid-19, pengunjung sudah mulai menurun,” sebutnya sambil mengemukakan kendala-kendala yang dihadapi pedagang.
“Apalagi ditambah dengan adanya Covid-19, sekitar 60 persen pedagang tutup,” ungkapnya.
Menanggapi itu, Muhammad Farhan menuturkan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh beberapa faktor penyebab.
“Kondisinya saya lihat sekarang sudah parah ya. Ini ada beberapa faktor penyebab, disamping memang ekonomi kita sedang direm, rem darurat karena Covid-19, tapi disaat bersamaan memang ada indikasi bahwa pengelolaan pasar ini bermasalah,” ujar Muhammad Farhan sambil menjelaskan kendala yang ada.

Namun demikian, di kesempatan itu ia juga memberikan apresiasinya kepada para pedagang yang masih terus bertahan.
“Saya sangat menghargai bagaimana daya tahan para pedagang di Pasar Baru ini, walaupun banyak diantara mereka yang tutup. Tetapi yang masih bertahan dan berusaha artinya berjuang mengundang para pengunjung. Memang pandemi ini membuat kita kesulitan, tapi jangan menyerah dan menjadikan Covid-19 sebagai satu-satunya alasan,” kata Muhammad Farhan memotivasi.
Lebih lanjut Muhammad Farhan yang juga pernah turut mencari nafkah di basemen Pasar Baru ini menerangkan, “Bicara soal mengundang pengunjung untuk datang, terutama menggantikan yang datang dari mancanegara yang mau tidak mau distop (selama masa pandemi), maka pengelola pasar ini berikutnya harus mengerti betul, sehingga bisa mencari berbagai cara dan jalan untuk mengganti pembeli yang datang dari luar negeri,” tandasnya.
(Stanley/sorotindonesia.com)











Komentar