BANDUNG – Di pagi buta, seorang lelaki separuh baya itu pergi berbelanja di salah satu Pasar terbesar di sudut Kota Bandung. Tepatnya di Pasar Ciroyom inilah, tujuan lelaki yang telah bercucu ini setiap hari menyandarkan hidupnya. Setiap hari, sekira pukul dua dini hari, dia sudah bergegas dari rumah kontrakannya di kawasan Cimuncang, Cibeunying Kidul menuju Ciroyom. Di Pasar Ciroyom ini berbagai macam jenis sayuran dan berbagai macam kebutuhan pokok tersedia. Namun yang dibutuhkan Udin (53), lelaki yang sudah tak muda lagi, tak begitu banyak. Hanya 300 butir Tahu ukuran kecil yang berasal dari Kota Cirebon serta bumbu-bumbu sebagai penyedapnya.
Mang Udin, sebutan akrab lelaki yang setiap hari tidak bosan-bosannya membeli ratusan Tahu kecil, guna memenuhi dagangannya. Tahu Gejrot, asal Kota Udang Cirebon menjadi adalan bisnisnya di saat Pandemi Covid-19 melanda Indonesia di awal Maret 2020 lalu. Pandemi covid, membuat Udin yang telah menggeluti profesinya selama puluhan tahun sebagai kuli bangunan berhenti total. Pertengahan Maret lalu, dia terpaksa kehilangan pekerjaannya, lantaran proyek bangunan tempat ia bekerja berhenti beroperasi. Tak ada kegiatan pembangunan, buruh harian terpaksa di-PHK, dan pekerja tetap sebagian dirumahkan dengan honor separuhnya.
Udin pun bingung selama berhari-hari pasca PHK. Dalam ketermenungannya, dia membuat boks untuk jualan makanan Cuanki. Namun salah satu kerabatnya memberikan ide untuk jualan salah satu makanan khas Cirebon, yaitu Tahu Gejrot. Tahu Gejrot memang makanan merakyat yang cukup digemari masyarakat menengah ke bawah. Berupa tahu kecil-kecil yang ditaburi bumbu bubuk dari bahan bawang merah, cabe, garam, gula merah dan cairan bawang putih.
Bemodal uang sisa gaji terakhirnya sekira Rp 1,5 juta, Mang Udin berhasil membuat sendiri boks makanan untuk jualan Tahu Gejrot. Awalnya, pada pertengahan Maret lalu, boks makanan dipakai saudaranya berjualan di depan suatu cafe di bilangan Kota Bandung. Namun serangan pandemi covid yang semakin merebak membuat pemerintah kota melarang kegiatan perdagangan di mall maupun cafe. Akibatnya, Tahu Gejrot di cafe terpaksa tutup. Dia pun memutar otak dengan mengalihkan dagangannya sendiri di atas sepeda motor matic untuk berkeliling seputar pusat pertokoan Suropati Core, Pasirlayung, Cibeunying Kidul, Kota Bandung.
Di Suropati Core, Mang Udin punya tempat mangkal untuk menjajakan Tahu Gejrotnya. Bersama para pedagang kaki lima lainnya, mereka mencoba mencari peruntungan di pagi hari hingga tenggelamnya Mentari di dekat taman ruko. Sudah tujuh bulan berjalan, Mang Udin mencoba bertahan menghidupi keluarganya di saat Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir. Walaupun tidak sebanding pekerjaanya dulu saat menjalani sebagai kuli bangunan, namun dia tetap mensyukuri sebagai pedagang Tahu Gejrot yang bisa mendapatkan income sekira Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per harinya.
Dalam kondisi Covid ini, Mang Udin tetap selalu menggunakan protokol kesehatan dengan membawa masker, menjaga jarak serta membawa hand sanitizer serta sabun cuci. Dia selalu patuh terhadap himbauan pemerintah daerah maupun aparat setempat. Saat dia memotong-motong tahu daganganya, sarung tangan plastik dan masker selalu dipakainya. Udin berharap segera diberikan vaksin bagi dirinya maupun keluarganya, sehingga bisa terbebas dari bahaya Virus Corona saat menjalankan usahanya. Dia juga berharap mendapatkan bantuan usaha kecil jilid kedua dari pemerintah, karena pada jilid pertama dia terlambat mengajukannya. (Asep Y/BentarNews.com)











Komentar