oleh

Hasil Pandai Besi Ukar Kota Tasik Sempat Dipesan Orang Prancis

TASIK–Tukang besi atau pandai besi adalah orang yang pekerjaannya membuat alat-alat atau perkakas dari besi atau baja.

Biasanya pandai besi membuat alat-alat untuk bertani seperti cangkul, arit, parang, kapak, pisau, dan lainnya. Bahkan pandai besi mampu membuat senjata tajam seperti golok dan pedang.

Di Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Bantarsari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, sekitar 200 meter dari Simpang 4 Bantar arah ke Gunung Galunggung, terdapat sebuah pondok pandai besi bernama Pandai Besi Ukar.

Lebih kurang 45 tahun, pandai besi Ukar berdiri hingga kini sampai generasi ke 3.

Baca Juga  Organda Berharap Flyover Dibangun Juga di Simpang Cimareme

Aa Sumarna (44) cucu dari pak Ukar mengatakan, pandai besi ini didirikan oleh kakeknya sekira 45 tahun lalu. Sepeninggalnya pak Ukar dilanjutkan oleh Jojon yang merupakan anaknya sebagai generasi ke 2.

“Saya generasi ke 3. Pandai besi ini turun temurun,” ujar Aa, Minggu (17/1/2021).

Ia menuturkan, di pandai besi tersebut dirinya membuat berbagai perkakas alat-alat pertanian, linggis, bedor, pahat batu (pancir)untuk membelah, pahat beton (luju) dan alat lainnya yang terbuat dari besi.

“Banyak yang buat dari besi per mobil atau baja yang sudah teruji bajanya,” ucapnya.

Baca Juga  Polsek Nagrek Polresta Bandung Bersama Unsur Tiga Pilar Gelar Operasi Yustisi

Selain dari besi atau baja per mobil, bahan untuk membuat perkakas juga ada yang dari bering (laher). Untuk membuat sebuah perkakas, bahan berupa besi atau baja dibakar dipembakaran dari arang kayu. Untuk pengapiannya diberi dorongan angin dari blowor agar arang terus menyala.

“Bahan dibakar lebih kurang satu jam, kemudian dipalu untuk menyesuaikan bentuk dan ukuran,” tutur Aa.

Ia mengatakan, untuk membuat satu buah perkakas dibutuhkan waktu sekitar 3 hari sampai jadi dan siap digunakan.

“Untuk ongkos pembuatan tergantung dari besar kecilnya dan panjang pendeknya ukuran. Ada yang Rp200.000, Rp300.000, sampai Rp. 400.000, tergantung bahannya juga”ungkapnya.

Baca Juga  Peringati Hari Anti Korupsi, Jurnalis Hukum Bandung Turun ke Jalan

Aa menambahkan, dirinya juga melayani pembuatan sesuai dengan pesanan konsumen.

“Kalau konsumen ada dari Kawali Kabupaten Ciamis, Sukaraja, Karang Nunggal, dan dari daerah lain di Jawa Tengah. Bahkan di tahun 90-an pernah membuat perkakas pesanan orang Prancis,” ujarnya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, Aa mengaku memang terdampak secara ekonomi. Kendati demikian hingga kini masih ada yang membuat perkakas untuk pertanian maupun pahat batu dan beton.”Alhamdulillah masih ada yang pesan untuk dibuatkan perkakas meski jumlahnya berkurang,” pungkasnya.

Komentar

News Feed