Kabupaten Garut – Surak Ibra adalah kesenian tradisional masyarakat Kampung Cipanas Desa Kertajaya Kecamatan Cibatu, Garut merupakan hasil cipta karya Rd. Andi Kartawijaya alias Mbah Ibra. Kesenian ini mulai populer pada tahun 1928 yang ditampilkan khusus setiap perayaan hari lahirnya keluarga demang.
Embah Ibra (Rd. Andi Kartawijaya) sebagai tokoh yang menciptakan surak ibra sekaligus leluhur masyarakat disini banyak meninggalkan kisah besar bagi peradaban masyarakat Cibatu.
Mbah Ibra merupakan keturunan (Buyut) dari Panglima kerajaan Mataram, Mbah Ibra dimakamkan di Astana (Tempat Pemakaman) Kp. Ciloa, Kertajaya dan masyarakat menganggapnya sebagai leluhur Kampung Cipanas. Hingga saat ini seni Surak Ibra menjadi kesenian warisan leluhur yang membudaya. Dan diera kekinian kesenian khas tersebut selalu ditampilkan setiap acara Agustusan (memeriahkan hari kemerdekaan RI) atau hari besar Islam (Mulud),” kata Tantan Asmara, tokoh masyarakat Desa Kertajaya.
Tantan Asmara, SHi., Tokoh Pembina kesenian Surak Ibra yang juga mantan Kepala Desa Kertajaya memaparkan, “Surak Ibra ini merupakan Kesenian asli warga Cipanas, Cibatu yang keberadaannya sudah banyak dikenal oleh wisatawan mancanegara namun belum banyak dikenal oleh masyarakat sunda, warga Garut khususnya.
Pada intinya Surak Ibra merupakan penggabungan dari 3 kesenian tradisional, yakni seni Catrik (Bobodoran), Beluk (lagu/wawacan) dan Badeng (alat kesenian dari bambu) yang pada pementasannya dibutuhkan ritual khusus yang dilakukan 3 hari sebelum pelaksanaan pentas.
Tantan menambahkan, “berdasar pada itu, Surak Ibra sebagai kesenian asli masyarakat Garut yang menjadi kebudayaan tradisional masyarakat Kampung Cipanas ini wajib dijaga dan dipelihara kelestariannya.
Kepada tarungnews.com di Garut (15/11) tempo hari, ia menyebutkan, “sebagai tokoh besar yang memberi warna baru dalam peradaban kebudayaan masyarakat sunda, Makam keramat Mbah Ibra sebagai leluhur kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda dari Garut, khususnya masyarakat Desa Kertajaya terletak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ciloa keadaannya masih belum terpelihara dan sangat memprihatinkan.
Oleh karena Mbah Ibra ini sebagai leluhur dan tokoh peradaban kesenian surak ibra yang mendunia sebagai budaya kesenian tradisional masyarakat sunda, kami berharap pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan serta instansi terkait lainnya untuk membuka mata memperhatikan kelestarian kesenian Surak Ibra dan makam leluhur yang meciptakannya,” pungkas Tantan.
Alam,tarungnews.com – Biro Garut











Komentar