oleh

Kasus Covid-19 di Klaster Pesantren Cineam Tasikmalaya Masih Bertambah

CINEAM, AYOTASIK.COM – – Kasus Covid-19 di klaster pesantren Al-Kautsar 56, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya masih mengalami kenaikan. Hingga Kamis (4/2/2021) jumlah santri dan staf di pesantren tersebut yang terkonfirmasi positif Covid-19 jumlahnya mencapai 180 kasus. Semula kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 hanya 102 orang.

Pimpinan pesantren Al-Kautsar 561 Rifq fauzi mengatakan, saat ini santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan menjalani karantina sebanyak 60 orang. Jumlah tersebut mungkin akan berubah seiring dengan sudah ada yang selesai masa karantinanya dan diperbolehkan pulang oleh gugus tugas.

“Kalau total santri sekira 500 orang. Namun, saat ini ada sekira 100 orang. Mereka dipisahkan antara yang positif dan negatif,” ujar Rifqi, Kamis (4/2/2021).

Baca Juga  Bambang Apresiasi Kinerja BPBD Indramayu ,Walau Keterbatasan Sapras

Menurutnya, Santri yang terkonfirmasi positif Covid-19 ditempatkan di gedung yang diberi tanda merah, dan yang negatif menempati gedung dengan tanda hijau.

“Jadi kami berikan zonasi di pesantren agar yang positif tidak menularkan ke yang negatif,” ucapnya.

Ia menuturkan, sebagian santrinya yang positif memang sudah ada yang pulang karena ditarik pulang orang tuanya. Kendati demikian, santri yang pulang diwajibkan untuk melakukan swab mandiri dan hasilnya dilaporkan ke pihak pesantren dan ke gugus tugas di tempatnya masing-masing.

“kami syaratkan untuk langsung melakukan swab hari itu juga secara mandiri, supaya ketahuan santri yang pulang itu positif atau negatif,” tuturnya.

Ia menjelaskan, bahwa santri yang pulang positif itu pada dasarnya pada awal ada kejadian kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Orang tua santri mau narik pulang anaknya. Artinya bukan dipulangkan setelah hasil positif di sini, tapi hasil Swab PCR mandiri. Jadi waktu pulang belum diketahui positif atau negatifnya.

Baca Juga  Turunkan Kasus Stunting, Bandung Tanginas Kerjasama dengan Rumah Aqiqah

“Jadi kami tidak sembarang memulangkan seandainya santri mau ditarik pulang orang tuanya. Yang menjemputnya juga harus melakukan protokol kesehatan dengan ketat. Misalnya di dalam mobil itu harus satu orang dan mengenakan masker double,” tandasnya.

Ia menambahkan, alasan para orang tua menarik anaknya dari pesantren mungkin karena yang di karantina di sini banyak, sehingga khawatir yang negatif tertular dan tinggal di rumah mungkin akan lebih aman.

Baca Juga  Gatur Lalin Secara Prima, Satlantas Polsek Rancaekek Polresta Bandung

“Sebelum diizinkan pulang, mereka juga menanda tangani surat perjanjian dan bila terjadi hal yang tidak diinginkan tidak menyalahkan kami maupun gugus tugas di sini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi mengatakan, pihaknya terus memantau kondisi para santri yang masih menjalani isolasi di pesantren.

“Seluruh penghuni di pesantren telah menjalani tes swab. Kini tinggal pemantauan yang masih menjalani isolasi. Kalau yang negatif sebagian sudah dipulangkan,” ujar Atang.

Ia menyebut, klaster pesantren ini sudah terjadi kali kesekiannya di Tasikmalaya, sehingga perlu peningkatan pencegahannya.

“Potensi penularan Covid-19 di lingkungan pendidikan itu cukup tinggi,” tandasnya.

Komentar

News Feed